Rabu, 22 Januari 2014

Bersemi di HBS, halaman 2


Di saat pembagian kelas aku mendapat kelas yang agak aneh yaitu kelas Een A, padahal aku hanya anak seorang demang bagaimana bisa masuk ke kelas A. Tak pikir panjang lagi aku langsung memasuki kelas tersebut, dan ternyata tak diduga-duga si  cantik Belanda itu satu kelas denganku. Agak gugup dan bingung perasaanku waktu itu, bagaimana tidak? Aku belum mempunyai teman satu pun dan setiap dekat dengan si cantik Belanda itu aku selalu salah tingkah karena tak sengaja dia duduk di sampingku. Dengan agak ragu dan terbata-bata aku bertanya padanya “hmm.. wat ist ja naam? (siapa namamu?)” lalu dia tersenyum dan menjawab “namaku Magdalena Willhelm, dan kamu?” aku pun agak heran bagaimana dia berbahasa Pribumi “namaku Soemargono,  bisa bahasa Pribumi ya?” dia pun menjawab dengan agak kaku  “iya, sedikit-sedikit”. Agak jarang memang melihat anak sesusianya bisa menggunakan bahasa pribumi karena bahasa yang harus kami gunakan sebagai bahasa nasional waktu itu adalah bahasa Belanda.
Sepulang sekolah aku melihat si cantik Belanda yang bernama Magdalena Willhelm itu di jemput sebuah mobil klassik yang hanya dapat dimiliki kaum borjuis saja. Setelah mobil klasik itu beranjak dari HBS kuikuti dari belakang dengan menggunakan sepada tuaku meskipun harus kugayuh dengan agak cepat supaya tak tertinggal dari mobil itu. Setelah menghabiskan nafas dan bercururan keringat akibat membuntuti mobil klasik itu dengan sepeda tuaku , berhentilah mobil itu di depan rumah megah nan mewah dengan banyak penjaga, kemudian aku yakin jika si Magdalena Willhelm itu adalah anak seorang cendikiawan Belanda karena dapat dilihat dari gaya hidup dan istananya itu.

Selasa, 21 Januari 2014

Bersemi di HBS, halaman 1


Beruntung bagiku bisa merasakan hangatnya bangku sekolah di mana sebagian besar anak-anak seusiaku harus menelan pahitnya nasib sebagai manusia yang terjajah pada masa kolonial Belanda, pilihan mereka hanya dua yaitu bertani secara paksa atau mati kelaparan di penjara. Keberuntunganku ini hanya karena ayahku seorang “Demang” yaitu seorang tangan kanan Belanda atau orang-orang pribumi sering mengasumsikannya sebagai “Anjing Belanda”. Agak risih memang aku mendengar kata-kata itu tetapi memang begitulah kenyataannya.
Tujuh tahun sudah aku lalui di Sekolah Rakjat, kini aku memilih untuk melanjutkan ke Holger Burger School (HBS), yakni sekolah elit para kaum bangsawan dan orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Hari itu, aku berdandan begitu rapi dengan menggunakan seragam putih dan menyisir rambutku agar terlihat klimis, maklum itu hari pertamaku di HBS. Lalu kutunggangi sepedah tua milik ayahku dan kugayuhkan kakiku dengan santainya tanpa kusadari bel sekolah sudah berbunyi, aku pun langsung menggeletakan sepedah tuaku itu dan segera ikut berbaris di depan halaman sekolah dengan tercengang melihat hampir setengah penghuni HBS adalah orang-orang Belanda. Seketika itu juga mataku terpelotot melihat seorang gadis Belanda yang begitu cantik, rambutnya yang kepirang-pirangan, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis dan matanya yang indah, sampai-sampai aku tak sadar ternyata bukan hanya aku yang memandanginya beberapa orang Belanda dan Pribumi lainnya juga terkesima terhadap gadis itu.