Di saat pembagian
kelas aku mendapat kelas yang agak aneh yaitu kelas Een A, padahal aku hanya
anak seorang demang bagaimana bisa masuk ke kelas A. Tak pikir panjang lagi aku
langsung memasuki kelas tersebut, dan ternyata tak diduga-duga si cantik Belanda itu satu kelas denganku. Agak
gugup dan bingung perasaanku waktu itu, bagaimana tidak? Aku belum mempunyai
teman satu pun dan setiap dekat dengan si cantik Belanda itu aku selalu salah
tingkah karena tak sengaja dia duduk di sampingku. Dengan agak ragu dan
terbata-bata aku bertanya padanya “hmm.. wat ist ja naam? (siapa namamu?)” lalu
dia tersenyum dan menjawab “namaku Magdalena Willhelm, dan kamu?” aku pun agak
heran bagaimana dia berbahasa Pribumi “namaku Soemargono, bisa bahasa Pribumi ya?” dia pun menjawab
dengan agak kaku “iya, sedikit-sedikit”.
Agak jarang memang melihat anak sesusianya bisa menggunakan bahasa pribumi
karena bahasa yang harus kami gunakan sebagai bahasa nasional waktu itu adalah
bahasa Belanda.
Sepulang
sekolah aku melihat si cantik Belanda yang bernama Magdalena Willhelm itu di
jemput sebuah mobil klassik yang hanya dapat dimiliki kaum borjuis saja.
Setelah mobil klasik itu beranjak dari HBS kuikuti dari belakang dengan
menggunakan sepada tuaku meskipun harus kugayuh dengan agak cepat supaya tak
tertinggal dari mobil itu. Setelah menghabiskan nafas dan bercururan keringat
akibat membuntuti mobil klasik itu dengan sepeda tuaku , berhentilah mobil itu
di depan rumah megah nan mewah dengan banyak penjaga, kemudian aku yakin jika si
Magdalena Willhelm itu adalah anak seorang cendikiawan Belanda karena dapat
dilihat dari gaya hidup dan istananya itu.
