Selasa, 21 Januari 2014

Bersemi di HBS, halaman 1


Beruntung bagiku bisa merasakan hangatnya bangku sekolah di mana sebagian besar anak-anak seusiaku harus menelan pahitnya nasib sebagai manusia yang terjajah pada masa kolonial Belanda, pilihan mereka hanya dua yaitu bertani secara paksa atau mati kelaparan di penjara. Keberuntunganku ini hanya karena ayahku seorang “Demang” yaitu seorang tangan kanan Belanda atau orang-orang pribumi sering mengasumsikannya sebagai “Anjing Belanda”. Agak risih memang aku mendengar kata-kata itu tetapi memang begitulah kenyataannya.
Tujuh tahun sudah aku lalui di Sekolah Rakjat, kini aku memilih untuk melanjutkan ke Holger Burger School (HBS), yakni sekolah elit para kaum bangsawan dan orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Hari itu, aku berdandan begitu rapi dengan menggunakan seragam putih dan menyisir rambutku agar terlihat klimis, maklum itu hari pertamaku di HBS. Lalu kutunggangi sepedah tua milik ayahku dan kugayuhkan kakiku dengan santainya tanpa kusadari bel sekolah sudah berbunyi, aku pun langsung menggeletakan sepedah tuaku itu dan segera ikut berbaris di depan halaman sekolah dengan tercengang melihat hampir setengah penghuni HBS adalah orang-orang Belanda. Seketika itu juga mataku terpelotot melihat seorang gadis Belanda yang begitu cantik, rambutnya yang kepirang-pirangan, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis dan matanya yang indah, sampai-sampai aku tak sadar ternyata bukan hanya aku yang memandanginya beberapa orang Belanda dan Pribumi lainnya juga terkesima terhadap gadis itu. 

0 komentar:

Posting Komentar