Beruntung
bagiku bisa merasakan hangatnya bangku sekolah di mana sebagian besar anak-anak
seusiaku harus menelan pahitnya nasib sebagai manusia yang terjajah pada masa kolonial
Belanda, pilihan mereka hanya dua yaitu bertani secara paksa atau mati kelaparan
di penjara. Keberuntunganku ini hanya karena ayahku seorang “Demang” yaitu
seorang tangan kanan Belanda atau orang-orang pribumi sering mengasumsikannya
sebagai “Anjing Belanda”. Agak risih memang aku mendengar kata-kata itu tetapi
memang begitulah kenyataannya.
Tujuh tahun
sudah aku lalui di Sekolah Rakjat,
kini aku memilih untuk melanjutkan ke Holger
Burger School (HBS), yakni sekolah elit para kaum bangsawan dan orang-orang
Belanda yang tinggal di Indonesia. Hari itu, aku berdandan begitu rapi dengan
menggunakan seragam putih dan menyisir rambutku agar terlihat klimis, maklum
itu hari pertamaku di HBS. Lalu kutunggangi sepedah tua milik ayahku dan kugayuhkan
kakiku dengan santainya tanpa kusadari bel sekolah sudah berbunyi, aku pun
langsung menggeletakan sepedah tuaku itu dan segera ikut berbaris di depan
halaman sekolah dengan tercengang melihat hampir setengah penghuni HBS adalah
orang-orang Belanda. Seketika itu juga mataku terpelotot melihat seorang gadis
Belanda yang begitu cantik, rambutnya yang kepirang-pirangan, hidungnya yang
mancung, bibirnya yang tipis dan matanya yang indah, sampai-sampai aku tak
sadar ternyata bukan hanya aku yang memandanginya beberapa orang Belanda dan
Pribumi lainnya juga terkesima terhadap gadis itu.

0 komentar:
Posting Komentar