Selasa, 04 Februari 2014

Bersemi di HBS, halaman 4



Pada suatu ketika saat pulang sekolah aku melihatnya duduk di pojok sekolahan, lalu kuhampiri dia dan kutanya “hai, kamu masih menunggu jemputan?” dia pun menjawab “Iya” kemudian kutawari dia untuk pulang naik sepeda denganku “mau pulang denganku naik sepeda?” agak ragu dia menjawab “hmm.. okay”. Lalu kuayuhkan sepedaku dengan memboncengnya dan sengaja kuajak dia lewat sawah-sawahan dan perkebunan supaya dia tahu betapa indahnya negeri ini namun dihiasi dengan penindasan tanam paksa. Sesampai di rumahnya aku agak takut dan malu ketika Lena menyuruhku untuk mampir di rumahnya yang megah itu, saat bertemu orang tuanya aku pasang muka senyum di hadapan ayah Lena  dan ayahnya juga membalasnya dengan senyum dan berkata “Dank u ……. (terima kasih telah mengantar Lena) lalu kujawab “ Ja, meneer.. You’re welcome (iya tuan, sama-sama). Ayah Lena juga menanyakan namaku dan kemudian kami duduk di kursi depan rumahnya dengan obrolan-obrolan ringan sambil menyeruput kopi hidangannya. Awalnya aku mengira ayah Lena adalah orang yang galak dan anti-pribumi, ternyata dugaanku salah. Mungkin dugaanku akan benar jika orang tua Magdalena adalah seorang tentara baik kopral, letnan, maupun jendral. Namun, untungnya itu tidak terjadi. Ayah Lena adalah seorang Profesor di bidang pertanian lulusan Universitas Den Haag, Belanda. Dimana pada waktu itu sebagian besar orang-orang Belanda yang Intelektual tidak seperti para tentaranya yang memandang rendah pribumi. Dari pertamuan itu aku mengetahui banyak hal tentang Lena, dimana Lena adalah seorang gadis yatim sekaligus anak tunggal dari Mr. John van hook (ayah Lena). Dia hanya tinggal bersama ayahnya dan beberapa pembantu serta ditemani anjing peliharaannya di rumahnya yang megah itu.

Bersemi di HBS, halaman 3


Seperti biasa setiap pagi di hari-hari sekolah aku memasuki kelas Een A duduk di depan pojok kanan di sebelah Magdalena, sebelum guru masuk ke kelas, dengan nada agak bercanda aku panggil dia “hello, nona meneer” apa yang terjadi, ia malah tertawa “hahaha,, Meneer? saya wanita bukan pria, panggil saja saya lena” aku pun baru sadar jika meneer untuk diperuntukan untuk laki-laki yang artinya “tuan”. Kemudian dari situlah kami mulai akrab semenjak dia memanggil namaku meski agak salah “nama kamu Soemagono, bukan?” lalu kujawab dengan bergayanya “ bukan Soemagono, tapi Soemargono. Kamu bisa memanggilku Margo” agak meledek ia menjawabnya “okay, Margo..”.
Hari demi hari rasanya kami semakin akrab karena candaan kami itu. Dan seiring dengan keakraban ini, aku mulai tahu jika ia adalah seorang wanita yang periang dan tidak sombong meskipun ia seorang Belanda sedangkan diriku hanya pribumi yang di pandang rendah oleh para mata Belanda itu.  Ya, wajar. Sebagai bangsa yang terjajah kami para pribumi dipandang begitu rendah oleh para Belanda pada masa itu, meskipun tak semua dari mereka seperti itu. Ada sebagian dari mereka hingga begitu sombongnya enggan untuk makan satu meja dengan kami orang pribumi, ada pula sebagian dari mereka yang tidak membedakan kelas antara primbumi maupun Belanda. Tentu posisiku sebagai orang pribumi sangat terintimidasi. Namun, setelah perkenalanku dengan Lena aku tidak lagi berpikir radikal jika semua orang Belanda itu angkuh, karena ada sebagian yang dari mereka yang baik. Si cantik Belanda ini sangat berbeda dengan Belanda lainnya, dia seakan-akan memiliki darah pribumi murni meskipun kulitnya yang putih agak bercak, matanya yang kehijauan, rambutnya yang pirang, dan hidungya yang mancung itu seperti umunya orang Belanda. Dia menunjukan sikap ramah tamahnya dan senyumnya setiap bertemu orang meskipun itu pribumi, ia begitu mahirnya menggunakan bahasa pribumi. Itu lah yang membuatku semakin lama semakin betah dekat dengannya.