Pada suatu ketika saat pulang sekolah aku melihatnya duduk di
pojok sekolahan, lalu kuhampiri dia dan kutanya “hai, kamu masih menunggu
jemputan?” dia pun menjawab “Iya” kemudian kutawari dia untuk pulang naik
sepeda denganku “mau pulang denganku naik sepeda?” agak ragu dia menjawab
“hmm.. okay”. Lalu kuayuhkan sepedaku dengan memboncengnya dan sengaja kuajak
dia lewat sawah-sawahan dan perkebunan supaya dia tahu betapa indahnya negeri
ini namun dihiasi dengan penindasan tanam paksa. Sesampai di rumahnya aku agak
takut dan malu ketika Lena menyuruhku untuk mampir di rumahnya yang megah itu,
saat bertemu orang tuanya aku pasang muka senyum di hadapan ayah Lena dan ayahnya juga membalasnya dengan senyum
dan berkata “Dank u ……. (terima kasih telah mengantar Lena) lalu kujawab “ Ja,
meneer.. You’re welcome (iya tuan, sama-sama). Ayah Lena juga menanyakan namaku
dan kemudian kami duduk di kursi depan rumahnya dengan obrolan-obrolan ringan
sambil menyeruput kopi hidangannya. Awalnya aku mengira ayah Lena adalah orang
yang galak dan anti-pribumi, ternyata dugaanku salah. Mungkin dugaanku akan
benar jika orang tua Magdalena adalah seorang tentara baik kopral, letnan,
maupun jendral. Namun, untungnya itu tidak terjadi. Ayah Lena adalah seorang
Profesor di bidang pertanian lulusan Universitas Den Haag, Belanda. Dimana pada
waktu itu sebagian besar orang-orang Belanda yang Intelektual tidak seperti
para tentaranya yang memandang rendah pribumi. Dari pertamuan itu aku
mengetahui banyak hal tentang Lena, dimana Lena adalah seorang gadis yatim
sekaligus anak tunggal dari Mr. John van hook (ayah Lena). Dia hanya tinggal
bersama ayahnya dan beberapa pembantu serta ditemani anjing peliharaannya di
rumahnya yang megah itu.
Selasa, 04 Februari 2014
Bersemi di HBS, halaman 3
Seperti
biasa setiap pagi di hari-hari sekolah aku memasuki kelas Een A duduk di depan
pojok kanan di sebelah Magdalena, sebelum guru masuk ke kelas, dengan nada agak
bercanda aku panggil dia “hello, nona meneer” apa yang terjadi, ia malah
tertawa “hahaha,, Meneer? saya wanita bukan pria, panggil saja saya lena” aku
pun baru sadar jika meneer untuk diperuntukan untuk laki-laki yang artinya
“tuan”. Kemudian dari situlah kami mulai akrab semenjak dia memanggil namaku
meski agak salah “nama kamu Soemagono, bukan?” lalu kujawab dengan bergayanya “
bukan Soemagono, tapi Soemargono. Kamu bisa memanggilku Margo” agak meledek ia
menjawabnya “okay, Margo..”.
Hari demi hari rasanya kami semakin akrab karena candaan kami itu.
Dan seiring dengan keakraban ini, aku mulai tahu jika ia adalah seorang wanita
yang periang dan tidak sombong meskipun ia seorang Belanda sedangkan diriku
hanya pribumi yang di pandang rendah oleh para mata Belanda itu. Ya, wajar. Sebagai bangsa yang terjajah kami
para pribumi dipandang begitu rendah oleh para Belanda pada masa itu, meskipun
tak semua dari mereka seperti itu. Ada sebagian dari mereka hingga begitu
sombongnya enggan untuk makan satu meja dengan kami orang pribumi, ada pula
sebagian dari mereka yang tidak membedakan kelas antara primbumi maupun
Belanda. Tentu posisiku sebagai orang pribumi sangat terintimidasi. Namun, setelah
perkenalanku dengan Lena aku tidak lagi berpikir radikal jika semua orang
Belanda itu angkuh, karena ada sebagian yang dari mereka yang baik. Si cantik
Belanda ini sangat berbeda dengan Belanda lainnya, dia seakan-akan memiliki
darah pribumi murni meskipun kulitnya yang putih agak bercak, matanya yang
kehijauan, rambutnya yang pirang, dan hidungya yang mancung itu seperti umunya
orang Belanda. Dia menunjukan sikap ramah tamahnya dan senyumnya setiap bertemu
orang meskipun itu pribumi, ia begitu mahirnya menggunakan bahasa pribumi. Itu
lah yang membuatku semakin lama semakin betah dekat dengannya.
Label:
Jika Aku Seorang Belanda
