Pada suatu ketika saat pulang sekolah aku melihatnya duduk di
pojok sekolahan, lalu kuhampiri dia dan kutanya “hai, kamu masih menunggu
jemputan?” dia pun menjawab “Iya” kemudian kutawari dia untuk pulang naik
sepeda denganku “mau pulang denganku naik sepeda?” agak ragu dia menjawab
“hmm.. okay”. Lalu kuayuhkan sepedaku dengan memboncengnya dan sengaja kuajak
dia lewat sawah-sawahan dan perkebunan supaya dia tahu betapa indahnya negeri
ini namun dihiasi dengan penindasan tanam paksa. Sesampai di rumahnya aku agak
takut dan malu ketika Lena menyuruhku untuk mampir di rumahnya yang megah itu,
saat bertemu orang tuanya aku pasang muka senyum di hadapan ayah Lena dan ayahnya juga membalasnya dengan senyum
dan berkata “Dank u ……. (terima kasih telah mengantar Lena) lalu kujawab “ Ja,
meneer.. You’re welcome (iya tuan, sama-sama). Ayah Lena juga menanyakan namaku
dan kemudian kami duduk di kursi depan rumahnya dengan obrolan-obrolan ringan
sambil menyeruput kopi hidangannya. Awalnya aku mengira ayah Lena adalah orang
yang galak dan anti-pribumi, ternyata dugaanku salah. Mungkin dugaanku akan
benar jika orang tua Magdalena adalah seorang tentara baik kopral, letnan,
maupun jendral. Namun, untungnya itu tidak terjadi. Ayah Lena adalah seorang
Profesor di bidang pertanian lulusan Universitas Den Haag, Belanda. Dimana pada
waktu itu sebagian besar orang-orang Belanda yang Intelektual tidak seperti
para tentaranya yang memandang rendah pribumi. Dari pertamuan itu aku
mengetahui banyak hal tentang Lena, dimana Lena adalah seorang gadis yatim
sekaligus anak tunggal dari Mr. John van hook (ayah Lena). Dia hanya tinggal
bersama ayahnya dan beberapa pembantu serta ditemani anjing peliharaannya di
rumahnya yang megah itu.

0 komentar:
Posting Komentar