Seperti
biasa setiap pagi di hari-hari sekolah aku memasuki kelas Een A duduk di depan
pojok kanan di sebelah Magdalena, sebelum guru masuk ke kelas, dengan nada agak
bercanda aku panggil dia “hello, nona meneer” apa yang terjadi, ia malah
tertawa “hahaha,, Meneer? saya wanita bukan pria, panggil saja saya lena” aku
pun baru sadar jika meneer untuk diperuntukan untuk laki-laki yang artinya
“tuan”. Kemudian dari situlah kami mulai akrab semenjak dia memanggil namaku
meski agak salah “nama kamu Soemagono, bukan?” lalu kujawab dengan bergayanya “
bukan Soemagono, tapi Soemargono. Kamu bisa memanggilku Margo” agak meledek ia
menjawabnya “okay, Margo..”.
Hari demi hari rasanya kami semakin akrab karena candaan kami itu.
Dan seiring dengan keakraban ini, aku mulai tahu jika ia adalah seorang wanita
yang periang dan tidak sombong meskipun ia seorang Belanda sedangkan diriku
hanya pribumi yang di pandang rendah oleh para mata Belanda itu. Ya, wajar. Sebagai bangsa yang terjajah kami
para pribumi dipandang begitu rendah oleh para Belanda pada masa itu, meskipun
tak semua dari mereka seperti itu. Ada sebagian dari mereka hingga begitu
sombongnya enggan untuk makan satu meja dengan kami orang pribumi, ada pula
sebagian dari mereka yang tidak membedakan kelas antara primbumi maupun
Belanda. Tentu posisiku sebagai orang pribumi sangat terintimidasi. Namun, setelah
perkenalanku dengan Lena aku tidak lagi berpikir radikal jika semua orang
Belanda itu angkuh, karena ada sebagian yang dari mereka yang baik. Si cantik
Belanda ini sangat berbeda dengan Belanda lainnya, dia seakan-akan memiliki
darah pribumi murni meskipun kulitnya yang putih agak bercak, matanya yang
kehijauan, rambutnya yang pirang, dan hidungya yang mancung itu seperti umunya
orang Belanda. Dia menunjukan sikap ramah tamahnya dan senyumnya setiap bertemu
orang meskipun itu pribumi, ia begitu mahirnya menggunakan bahasa pribumi. Itu
lah yang membuatku semakin lama semakin betah dekat dengannya.

0 komentar:
Posting Komentar